Jumat, 22 Maret 2013

No worry, Chubby!

Chubby.
 
Uh. Pasti para pemilik pipi berisi ini minimal pernah lah ya marah-marah atau menggerutu gara-gara keadaan volume pipinya yang--sigh--di atas rata-rata.
 
Termasuk saya, sebenarnya.
 
Bahkan saat berat badan turun, ini pipi masih bergeming di ukurannya yang semula. Kalaupun berkurang, gak terlalu kelihatan, dan rasanya sia-sia ngurangin porsi makan atau tektek bengeknya--padahal itu sengaja dilakukan buat mengempiskan pipi.
 
Apalagi saya double-chinned.
 
Memang keturunan sih, sebenarnya. Tapi tetap aja rasanya risih dan kesel dan pengin meletusin pipi pakai jarum.
 
Di sini saya gak akan kasih saran 'Gimana Cara Mengempiskan Pipi' atau yang sejenisnya, tapi mari kita coba lihat dari sisi positifnya.

Chubby itu lucu, loh. Bikin gemes. Meskipun memang kalau berlebihan jatuhnya bisa bikin speechless, well, seenggaknya itu bisa jadi salah satu sisi menarik buat kita--ehm--dan bikin gampang diingat orang lain.

"Eh itu kan Si Anu yang chubby itu!'

"Itu Si Anu yang pipinya ngegemesin, kan."

Mungkin bisa seperti itu.

Dan ya, sekarang saya bisa lebih melihat sisi positif dari memiliki pipi chubby. Ditambah setelah melihat foto yang satu ini:
 
 
 



Yeap! Miranda Kerr!

Kalau diperhatikan, istri Orlando Bloom ini punya pipi yang chubby. Tapi dia tetep percaya diri dan keliatan cantik cantik cantik sangat dengan pipinya.

Apalagi kalau ketawa.


Demi Alpacino. Kenapa dia tetep kelihatan cantik.

Jadi apa kalian masih kesel dengan pipi kalian yang 'tembem'?

Ya, asal jangan terlalu berlebihan sih bukan masalah kok.

Apa yang udah kita punya, harus dijaga. Jangan dihilangkan atau dilebihkan, yegak?

We are happy-chubbied girls




Cameron Diaz



 

Son Naeun


 


Park Cho Rong




 

Miranda Kerr


 



Miranda Kerr




Moon Geun Young


 

Miranda Kerr






 

Sabtu, 19 Januari 2013

Animatlor: Intro.

"Animatlor. Hanya satu dari satu juta orang yang berpeluang mengalami ini. Bukan penyakit, melainkan sebuah kelebihan, di mana kau akan bisa berinteraksi dan berbicara dengan hewan, mengerti apa yang mereka bicarakan, dan mengetahui apa yang mereka rasakan."
 
Bukan lagi marah. Bukan lagi kesal. Tapi depresi.
Di saat semua menikmati musik, aku harus tahan mendengar ocehan cicak hitam di kamarku.
Di saat semua tertawa karena mendengar lelucon dari sebuah acara televisi, aku harus rapat-rapat menutup telingaku supaya tidak bisa mendengar kelakar garing yang dilontarkan nyamuk-nyamuk.
Di saat semua berteriak histeris menonton band favoritnya tampil dalam sebuah konser, aku harus mengelus dada supaya tetap sabar mendengar gerutuan tikus-tikus got yang kesal karena rumahnya tersumbat sampah plastik.
Dan saat semua tersenyum tanpa henti karena mendengar suara seseorang yang mampu membuat jantung mereka berdegup dua kali lebih cepat, aku harus bersembunyi di bawah bantal supaya suara perkelahian antara dua kucing di luar rumah tidak terdengar.
 
Mungkin konyol, karena walaupun aku sudah mengalami ini selama tujuh belas tahun, aku masih tetap tidak bisa membiasakan diri. Lagipula, siapa yang akan terbiasa? Mendengar hewan-hewan itu bersuara dalam bahasa yang tidak dimengerti saja sudah membuat kesal, bagaimana jika kau mengerti dan tahu kalau mereka bicara padamu?!
 
"..... Bukan penyakit, melainkan sebuah kelebihan, di mana kau akan bisa berinteraksi dan berbicara dengan hewan....."

Rabu, 12 Desember 2012

Minyi Quotes Enam

"Menutup telinga bukan hal yang tepat dilakukan jika kamu mendengar suara sumbang. Tapi bicaralah--kalau perlu berteriak--lebih keras dari suara sumbang itu, agar kamu tidak mendengarnya lagi."

Selasa, 11 Desember 2012

Original Fiction: The Matter


“Oh astaga…berapa lama gadis ini tidak makan? Kakinya benar-benar… Pinggangnya…” Suara kertas beradu terdengar seperti backsound saat kubolak-balik lembar demi lembar majalah di meja kantin.
“Lihatlah, El! Lihat gadis ini. Bagaimana bisa tulang rusuknya begitu jelas terlihat. Aih, menggelikan. Jatuhnya jadi tidak seksi.” Kugelengkan kepala. Prihatin dengan model di halaman terakhir majalah yang baru saja kulihat. Hanya demi sebuah photoshoot, dia rela menurunkan hampir seperempat berat badannya—menurut keterangan di dalam majalah itu—dan sekarang dia benar-benar terlihat seperti potongan tulang hidup.
“Bisakah berhenti membahas ukuran tubuh?” Elle terdengar sedikit menggeram.
Aku menoleh ke arahnya. Menatap Elle dengan tatapan ‘apa-maksudmu-bicara-begitu-?’ “Bukankah biasanya kau yang paling senang membicarakan tentang ‘kira-kira porsi makan model ini berapa kalori per hari, ya?’ atau ‘bagaimana cara model ini mendapatkan pakaian yang berukuran sangat amat tidak manusiawi ini’? Ada apa, El?”
“Aku…aku hanya tidak ingin membahasnya. Sedang tidak ingin, Audrey.”
Masih kutatap Elle. Begitu intens, hingga—mungkin—ia merasa jengah, dan balik menatapku. “Kau sedang dalam masa periodemu? Atau ada sesuatu yang membuat mood-mu tidak baik hari ini? Kau bisa ceritakan padaku.” Aku berdeham sebentar. “Sejak pagi kulihat kau menekuk wajah—dan jujur saja, itu membuatku ingin menyetrika wajahmu. Dan menambahkan pelembut di atasnya.”
Elle tidak bisa untuk tidak tersenyum. Sorot matanya seolah mengatakan sesuatu padaku. Namun sayangnya, aku sama sekali tidak mengerti.
“Katakan saja.” Ujarku pelan-pelan. Berusaha membaca ekspresinya yang terlalu absurd.
“Emh…begini. Oh Ya Tuhan, aku bingung akan memulai dari mana,” Elle menggelengkan kepalanya cepat. “Begini. Hngg. Jawab pertanyaanku dengan jujur, Drey.”
“Selagi kejujuran itu tidak menyakitkan, kupastikan aku berkata jujur.”
“Tidak, Audrey. Aku membutuhkan jawaban yang jujur. Sekalipun jawabanmu nanti akan semenyakitkan apapun itu, jujur, ya?” Pintanya.
Aku terpaksa mengangguk kecil. Jujur saja, aku bukan tipe orang frontal yang berani berkata blak-blakan. Walaupun aku juga bukan tipikal penjilat yang mengangkat slogan ‘apa-saja-asal-anda-senang’ tinggi-tinggi. Aku lebih senang menyesuaikan jawabanku dengan keadaan.
“Audrey, apakah aku……..” Elle  mengambangkan ucapannya. Membuatku ingin melempar sepatuku ke wajahnya saat itu juga.
“Kau…..apa?” Tanyaku tidak sabar.
“Apakah aku….gendut?”
Dan dapat kurasakan saat itu rotasi bumi berubah arah. Kehidupan manusia musnah, dan mammoth kembali hidup.

(Cerita 1)

Monolog Satu: Survive-nya Remaja.


Mulanya, aku memang naif. Tidak bisa—atau lebih tepatnya tidak mau—mengakui kalau popularitas itu nyata keberadaannya. Namun seiring waktu berjalan, kini aku paham, bagaimana semua ini memang berjalan seperti seharusnya. Maksudku, ayolah, ada spasi besar yang membatasi antara mereka, yang menggenggam kepopuleran, dengan kami, yang hanya dapat melihat dari jauh bagaimana cara mereka menggenggam kepopuleran itu. Siapa yang tidak mau populer? Jangan harap akan ada yang mengacungkan tangan, atau berbaris paling depan untuk mengiyakan pertanyaan ini.
            Aku berpikir, apa yang bisa membedakan kami? Oke, pertama pastinya wajah. Catat itu. Terlalu munafik untuk tidak mengakui, kalau kamu bisa menjadi populer dengan wajah good-looking. Kedua? Cara bergaul. Itu pasti. Jangan harap kamu akan melihat seorang yang populer akan berjalan dengan wajah menunduk, atau makan bekal di siang dengan malu-malu. Ketiga? Entahlah. I have no idea. Keempat? Kelima? Keenam? Mungkin sebaiknya kusimpan semua angka itu dalam kotak, dan melemparnya sehingga aku tidak akan berpikir tentang hal bodoh semacam ini.
            Tapi—hey, ayolah. Aku baru menyadari kalau semua yang dilakukan oleh orang-orang—baik itu si populer atau bukan—adalah cara dia untuk tetap bertahan. Maksudku, ini semacam bentuk survive. Orang populer tidak akan bisa mengerti bagaimana cara bertahan di dalam ruang lingkup kesederhanaan, dan begitu juga sebaliknya. Orang yang tidak populer tidak akan mau menjadi populer. Oke, mungkin bukan ‘tidak mau’. Tapi ‘tidak akan bisa’.
            Pada dasarnya, semua orang ingin jadi populer. Ingin banyak dikenal, dan dianggap. Tapi tidak semua orang mampu bertahan dalam ruang lingkup seperti itu. Dan orang-orang yang tidak bisa bertahan itu bukanlah loser. Mereka punya cara sendiri untuk tetap bertahan—dan merasa nyaman.
            So, intinya kita sama. Kita—aku yang tidak populer, dan kamu yang iya—sama-sama punya cara tersendiri untuk bertahan dan dianggap. Intinya? Jadilah diri sendiri. Karena saat kamu jadi dirimu sendiri, kamu akan bisa 'terlihat' sebagaimana kamu apa adanya.

Jumat, 09 November 2012

Minyi Quotes Lima

"Jika kamu berniat mendapatkan sesuatu, maka akan ada jalan untuk mencapainya. Semuanya bergantung pada seberapa besar niatmu itu."

Kamis, 08 November 2012

Minyi Quotes Empat

"Menghadapi ketakutan terbesar milik orang lain jauh lebih mudah daripada menghadapi ketakutan terkecilmu."