Sabtu, 04 Mei 2013
Suatu Saat
"Suatu saat, aku bisa makan semua 64 varian rasa pocky.
Di Jepang."
"Suatu saat, aku bisa minum caramel macchiato.
Di Seattle, di kedai Starbucks pertama di dunia."
"Suatu saat, aku bisa beli Ludwig-Musser drum set."
"Suatu saat, aku bisa nonton Real Madrid secara langsung.
Di Santiago Bernabeu."
"Suatu saat, aku bisa tahu gimana caranya nge-dj."
Dan terlalu banyak 'suatu saat' yang aku punya.
Intinya,
"Suatu saat, semua daftar 'suatu-saat' yang aku punya
harus terjadi. Harus."
Selasa, 23 April 2013
Yookyung, Still Our Spring Fairy (Her Departure from APink)
Dear Hong Yookyung...
Maybe you're not as noticed as Eunji and Naeun.

Maybe people thought you're not that gorgeous, but for me, you're the true beauty of Korean.
You're the only who could speak english well.
Played piano amazingly.

And you were that classic fairy.
Although you've gone, and not here any longer,
Pinkpanda's infinite love always will be with you.
Good luck and take care of yourself, Hong Yookyung! Still one of seven spring fairies<3
Minggu, 21 April 2013
Rabu, 10 April 2013
Original Fiction: Macchiato
[bagian yang bergaris miring untuk kejadian yang sudah lewat:-)]
Dengan
satu macchiato setiap hari, satu ucapan terimakasih tanpa senyum selalu aku
dapat.
“Terima kasih. Jangan datang lagi besok,
kalau bisa.” Sasazaki Huki menyerahkan satu cup ukuran besar macchiato dengan
campuran kayu manis padaku dari balik meja kasirnya.
Aku tersenyum. Tapi Huki tidak. Ia malah mengerutkan
keningnya, dan menatapku dengan pandangan
enyahlah-sekarang-juga-dari-hadapanku.
***
Dengan
motif susu yang berbeda pada setiap macchiato buatan Huki, aku bisa tahu apa
yang gadis itu tengah rasakan. Ia terlalu jujur. Yang dibutuhkannya hanya
secangkir kopi, dan di situlah perasaannya diungkapkan.
“Boneka
beruang untuk hari ini?” Aku mengerutkan dahi begitu menerima macchiato pada
hari Rabu di pertengahan Desember yang bersalju. Seattle memang sangat buruk
untuk urusan salju. Tapi untungnya ratusan—bahkan ribuan—kedai kopi selalu
tersedia duapuluh empat jam nonstop untuk membantumu membunuh dingin. Termasuk
kedai kopi ini. Kedai kopi milik Sasazaki Huki.
“Aku menemukan sebongkah salju
mengristal di kasurku tadi pagi. Dan, entah mengapa, hal itu membuat perasaanku
baik sepanjang hari ini.” Huki jarang tersenyum padaku. Tapi sekarang ia melakukannya.
Senyum yang sangat lebar sampai menunjukkan sebuah cekungan kecil di pipinya.
“Padahal kemarin kamu baru menggambar
tengkorak dengan lidah terjulur di macchiato-ku. Kalau bisa kutebak, pasti
kemarin adalah hari yang tidak terlalu baik untukmu.”
Gadis Jepang di hadapanku ini
mendengus sambil menaikkan sebelah bahunya. Bagaimana bisa senyum lebar yang
beberapa detik lalu ada mendadak hilang? Well, pemain emosi yang hebat.
“Terkadang sesuatu yang membunuh paling cepat adalah rasa ke-sok-tahuanmu.”
Aku tidak bisa untuk tidak terkekeh.
Tiga tahun menjadi pelanggan setianya bukan waktu yang sebentar. Rasa sarkasme
pada diri Huki sangat kental, dan untungnya aku sudah kebal. “Tapi aku yakin
apa yang aku perkirakan itu benar.”
Huki memandangku beberapa saat.
Kemudian ia mendesah dan nada suaranya meresah. “Adikku di Jepang sana menjual
semua koleksi manga Sailor Moon-ku ke tukang loak. Dan uangnya dia gunakan
untuk menghadiri acara fanmeet band Scandal. Benar-benar keterlaluan, bukan?
Memangnya dia pikir aku mengumpulkan semua manga itu satu malam saja? Aku
langsung—“
Dan pada saat seperti ini, aku bisa
melihat bagaimana Huki yang sebenarnya berbicara—meremas ujung celemeknya saat
masuk pada bagian cerita yang mengesalkan, menyipitkan matanya yang sudah sipit
saat menceritakan sesuatu yang membingungkan, dan tertawa kecil saat
menceritakan saat-saat yang baginya menyenangkan.
***
Ternyata
macchiato dan pepero adalah perpaduan yang bagus. Macchiato melembutkan pepero
yang keras, dan memberikan rasa pahit yang membungkus manisnya pepero secara
rapi. Mungkin ini bisa dianalogikan seperti aku dan Huki. Tapi tidak jelas
siapa yang menjadi pepero-nya, dan siapa yang diibaratkan sebagai macchiato.
“Selamat hari pepero!” Huki menyerahkan
sebuah kantung plastik bening dengan tiga buah kue stick di dalamnya, begitu
aku mendekati meja kasir untuk memesan satu cup caramel macchiato.
“Pepero?” Walaupun tidak mengerti
apa yang dimaksud Huki, aku tetap mengambil kantung plastik yang disodorkannya.
Apapun itu, aku harap ini bisa dimakan—dan gratis.
“Belum pernah dengar tentang pepero
dan hari pepero?” Alis kanan Huki naik dan memandangku dengan tatapan
menyudutkan. “Demi Tuhan, Russ. Ini namanya diskriminasi. Orang-orang Timur
begitu bersemangat mempelajari setiap detail kebudayaan Barat, tapi sayangnya
orang-orang Barat tidak menaruh sedikitpun perhatian terhadap kebudayaan dan
segala sesuatu tentang kami.”
Aku membuka ikatan pita pada ujung
kantung plastik yang tadi diberikan Huki, dan bertanya tanpa mengalihkan
pandangan. “Jadi pepero itu adalah?” Tidak kuacuhkan kuliah singkat gadis itu.
“Kue stick yang sedang kamu pegang.
Kami menyebutnya pepero. Dan tepat pada hari ini, 11 November, adalah hari
pepero. Sebenarnya hari pepero ini
kebudayaan yang terkenal dari Korea. Dan kebetulan Ibuku memiliki darah
Korea. Jadi kurasa tidak ada salahnya membawa hari pepero ke Seattle.”
Aku mengangguk-angguk tanpa acuh dan
menggigit sebuah ‘pepero’ yang sudah berhasil kukeluarkan.
“Bagaimana rasanya?”
Aku mengecap beberapa kali. “Pahit.”
Huki tersenyum aneh dan menggaruk
bagian belakang kepalanya. “Umh, yeah. Kebetulan aku membuat dalam rasa cokelat
asli. Tapi sebenarnya pepero bisa dibuat dalam berbagai macam rasa.”
“Benarkah? Kalau begitu, kamu
mungkin bisa membuatkan pepero manis untukku kapan-kapan.”
“Untuk kemudian kamu bagikan kepada
fans gilamu di kantor? Uh, jangan harap.”
“Tentu saja tidak.” Kuikat lagi
kantung plastik yang menyisakan dua pepero di dalamnya. “Untuk apa aku
memberikan sesuatu yang sudah dibuat dengan susah payah untukku kepada orang
lain secara cuma-cuma? Oh ya, caramel macchiato satu, Huki-chan. Siapa tahu
pepero ini akan terasa lebih enak dengan macchiato penuh cinta darimu.”
Bola mata gelap milik Huki berputar
sempurna. “Pertama, membuat pepero tidak sulit. Kedua, apa yang aku tangkap
dari omonganmu, kamu akan menjual pepero buatanku ke pada semua fansmu. Ketiga,
aku tidak membuat macchiato dengan campuran cinta untukmu.”
Aku hanya tertawa menanggapi Huki.
Gadis ini…
***
“Selamat
tahun baru!” Huki sedikit membungkuk untuk memberi penghormatan begitu aku
masuk ke dalam kedainya.
Seringaian
kecil tidak bisa kusembunyikan. Oh, oh. Gadis ini pasti tidak menyadari kalau
aku yang datang. Karena kalau ia tahu, ia tidak akan membungkuk seperti itu.
“Selamat
tahun baru juga, Huki-chan!”
Huki
selesai membungkuk. Ia menyipitkan matanya dan dengusan kecil terkuar. “Aku
kira bukan kamu yang datang.”
“Sudah
kuduga.” Aku tersenyum dan mendekati Huki yang sedang berdiri di dekat mesin
pembuat kopi. “Macchiato dengan kayu manis, satu.”
Untuk
beberapa saat Huki terdiam dan memandangku dengan tatapan bingung. “Russ, aku
sebenarnya sedikit heran.” Huki berdeham kecil dan melanjutkan. “Apa kamu tidak
bosan dengan macchiato? M-maksudku, selama ini yang kamu pesan di kedaiku
adalah macchiato. Aku belum pernah melihatmu memesan latte atau kopi hitam atau
yang lainnya.”
Aku
mengangguk-angguk kecil dan balas menatap Huki. Aku tidak pernah mengira ia
akan bertanya seperti ini. “Yang membuatku jatuh cinta padamu—maksudku kedaimu—adalah macchiato-mu. Jadi, aku belum
berpikir untuk memesan kopi dengan jenis lain di sini.”
“Macchiato
di De Supreme kurasa lebih enak—”
“Bagiku
macchiato di sini adalah yang terbaik.” Dengan cepat aku menyela sanggahan
Huki. “Anyway, sadar atau tidak, ini adalah tahun keempat aku menjadi pelanggan
setiamu.”
Sekali
lagi, Huki memandangku dengan tatapan bingung. “Benarkah? Empat tahun? Wow.
Selamat.”
“Ya.”
Sedikit ragu aku melanjutkan. “Pertama kali aku datang ke sini, empat tahun
yang lalu. Tepat saat tahun baru. Saat itu aku baru mengalami penolakan dari
seorang perempuan. Itu adalah kali pertama aku mengalami penolakan selama
hidupku.”
Huki
tertawa kecil dan mendorong pelan bahuku. “Aku ingat! Saat itu kamu datang
dengan sebuah buket bunga mawar merah muda super besar. Astaga, itu adalah
buket bunga terbesar yang pernah aku lihat.”
“Dan
kamu meminta buket bunga itu untuk kamu pajang di depan kedai.”
Kini
Huki tergelak. Ia sampai memukul pelan dinding kayu yang menghalangi tempatku
dan gadis itu berdiri. “Aku mengambil dua mawar yang masih kecil dan menanamnya
di rumah.”
“Benarkah?”
Ia
mengangguk mantap. “Namun sayangnya, baru dua hari, mawar itu sudah mati. Aku
saat itu yakin kalau kamu tidak memberi buket bunga itu dengan tulus.”
Aku
tidak mengacuhkan perkataan terakhir Huki. “Juga pada malam itu, aku memintamu
untuk memberiku sesuatu yang bisa membuat rasa sakit hati hilang seketika. Dan
kamu pun memberiku sebuah macchiato dengan kayu manis.”
“Dan
itu ampuh, bukan?”
“Sangat.
Terimakasih.”
“Bukan
masalah besar.” Huki cepat-cepat memalingkan wajahnya dan segera mengambil
sebuah cup berukuran besar.
Keheningan menyelimuti
beberapa saat. Keheningan yang sedikit janggal.
Dengan
sebuah dehaman, aku memecah keheningan yang tercipta. “Huki-chan.” Kulipat
tangan di dada dan bersandar pada kayu pembatas.
“Hm?”
“Bagaimana
kalau kamu menutup kedaimu lebih awal? Kurasa tidak ada salahnya kita
menghabiskan malam ini bersama. Lagipula tidak akan ada yang datang ke kedai
kopi pada malam tahun baru, kecuali orang yang sedang patah hati karena
mengalami penolakan.”
Senyum
samar terbentuk sebentar di wajah Huki. “Aku tidak bisa, Russ. Aku ha—“
“Sayangnya,
aku tidak menerima penolakan, Sasazaki Huki. Letakan lagi cup itu. Dan mari
kita menghabiskan waktu ber—oh tidak. Maksudku, mari kita berkencan.”
****
Jumat, 05 April 2013
Time Trial: Twisted
[Dengan perubahan nama tokoh:-)]
Orang tua bilang hidup ini mudah, dan jika berubah menjadi sulit, maka
dirimu sendirilah yang membuatnya sulit. Tapi tidak bagi Sabh. Baginya, hidup
ini mudah, dan jika berubah sulit, maka dosenmulah yang membuatnya menjadi
seperti itu.
Sabh rasa dosennya tidak bisa lebih menyebalkan lagi. Oke, mungkin semua
mahasiswa akan merasa dosennya adalah dosen paling menyebalkan yang pernah
ada—apalagi kalau dia tidak pernah masuk tapi memberikan tugas seolah membuat
tugas itu semudah mencapai lantai 20 menggunakan elevator—tapi serius deh,
dosennya ini memang benar-benar menyiksa anak didiknya.
Gadis itu melirik jam dinding yang masih dengan setia menemaninya terjaga.
00:14. Bagus sekali. Lima jam sudah Sabh menghabiskan waktu untuk duduk di
depan laptop untuk mengerjakan tugas. Tapi nyatanya belum ada satu kata juga
yang ia ketik.
“Dosen sialan! Kalau sampai besok seluruh wajahku penuh dengan lingkaran
hitam, maka dia orang pertama yang akan aku lempar ke sungai!” Sabh mengutuk
habis-habisan Sir Clerks—dosen kebudayaan Inggrisnya.
Merebahkan diri barang sebentar mungkin bukan masalah?
Untuk pertama kalinya, bisa ia rasakan setiap otot-otot tubuhnya melenguh
lega begitu Sabh merebahkan diri ke karpet bergambar chicken little di
belakangnya.
Bisakah seseorang menghentikan waktu dan membiarkan aku seperti ini
selama beberapa hari? Atau beberapa minggu? Bahkan tahun, kalau bisa? Yang
jelas aku tidak ingin kembali ke kehidupanku yang benar-benar membosankan dan
monoton. Sabh memejamkan matanya, dan bisa dirasakan semilir angin malam
meniup permukaan kulitnya.
Tok…tok…tok.
Sabh terkesiap begitu mendengar ketukan pintu tiba-tiba menginterupsi
suasana tenang yang sedang melingkupinya. Ia sedikit memiringkan tubuhnya ke
arah pintu.
Oh, jangan bercanda. Siapa yang berani bertamu pada jam semalam ini?
Tok…tok…tok. Kini suara ketukan di pintu flat gadis itu menguat.
Si pemilik flat masih bergeming.
Buka pintu? Jangan? Buka pintu? Jangan? Bu—
Tok…tok…tok…tok. Kini Sabh yakin tetangganya bisa mendengar suara
ketukan pintu itu.
“Siapa orang gila yang bertamu tengah malam seperti ini?” Sabh bangun dan
merapikan pakaiannya.
Tok…tok. Frekuensi ketukan mulai berkurang, tapi tidak dengan suara
yang ditimbulkannya.
Dengan langkah tersendat, Sabh berjalan menuju pintu. Pikiran dalam otaknya
masih bergumul; mengira-ngira siapa yang mengetuk pintunya di tengah malam
seperti ini. Apakah manusia biasa? Petugas flat? Satpam? Atau makhluk dari
dimensi lain? Untuk opsi terakhir, Sabh berusaha mengenyahkannya jauh-jauh.
“Aku bisa hapkido. Aku bisa hapkido. Jika yang datang adalah orang jahat,
aku bisa menendangnya sampai remuk.” Berulang kali bibir Sabh membisikkan
kalimat itu.
Apa aku perlu mengambil teflon untuk berjaga-jaga? Ah jangan konyol, Sabh.
Bagaimana kalau dia membawa pistol dan sebelum kamu sempat memukul kepalanya,
dia sudah berhasil meledakan isi kepalamu terlebih dahulu?
Sabh bersembunyi di bagian belakang pintu. Tangannya sedikit bergetar, namun
perlahan bergerak merayapi daun pintu. Mau tidak mau ia harus membuka pintu
sebelum para tetangga mendatanginya dan mengusir ia keluar dari flat karena
dianggap membuat keributan.
Cklerk.
Dipejamkannya mata kanan gadis berperawakan sedang itu, dan ia mengintip
sedikit, menyembulkan kepalanya ke luar sehingga ia bisa melihat siapa
‘tamu’-nya.
Seorang pemuda—dengan tangan dilipat di dada dan tatapan tajam—berdiri di
depan pintu flat Sabh. Postur tubuhnya tinggi—terlalu tinggi untuk Sabh, sampai
Sabh menghilangkan kemungkinan bahwa ia akan mampu menendang siapapun yang
mengetuk pintu flatnya sampai remuk—dan sebuah earring tertindik jelas di
telinganya.
Demi Tuhan! Jangan bilang kalau dia anggota gangster yang datang untuk
melakukan hal buruk!
Pemuda itu maju satu langkah. “Astaga!” Dia kini hanya berjarak dua langkah
dari Sabh. “Apakah kamu keturunan siput atau semacamnya? Sebegitu sulitnya kah
membuka pintu? Atau kamu berjalan dengan menggunakan tangan? Tidakkah kamu tahu
di luar sini dingin?” Tiba-tiba dia merangsek masuk dan menutup pintu dengan
menggunakan kakinya.
Jemari Sabh masih memegang daun pintu. Malah sekarang pegangannya sedikit
menguat. Badannya terdorong mengikuti gerakan pintu yang dengan kasar ditutup
pemuda itu. Pikiran Sabh kini terbagi; antara ingin menendang pemuda tidak tahu
sopan santun yang tiba-tiba masuk ke rumahnya ini atau berlari ke luar dan
meminta pertolongan pada bagian keamanan.
“Ah, Bodoh. Bagaimana mungkin aku lupa memerkenalkan diri!” Pemuda tadi berdecak
dan berbalik menghadap Sabh. Refleks, Sabh mundur beberapa langkah dan menatap
sosok di hadapannya dengan waspada. “Aku Raekh.” Dia menganggukan kepalanya
sedikit.
Kening Sabh berkerut. “Aku bahkan tidak bertanya siapa kamu.”
Raekh tertawa kecil—terdengar menyeramkan di telinga Sabh. “Bukankah tidak
sopan jika aku akan tinggal di sini tapi tidak memerkenalkan bahkan nama
sekalipun padamu, Sabh?”
Pegangan Sabh pada daun pintu terlepas. Apa ia tidak salah dengar? Tinggal
di sini? Di sini? Di flatnya? “Apa maksudmu kamu akan tinggal di sini? Dan
bagaimana bisa kamu tahu namaku? Aku tidak mengenalmu, jadi tolong jangan sok
kenal. Sekarang aku hitung sampai tiga, kalau kamu belum ke luar dari flatku,
aku akan berteriak sehingga tetanggaku terbangun dan mereka akan mengusirmu
dari sini. Satu, du—”
Sekarang giliran kening Raekh yang berkerut. “Aku tidak mengerti apa yang
kamu bicarakan.” Raekh menyela cepat hitungan Sabh sebelum gadis itu berteriak.
“Aku tahu namamu karena Dewan Keamanan memberi tahuku kalau aku akan tinggal di
sini, di tempat ini. Tempat milik seorang mahasiswi bernama Sabhrina. Dan aku yakin kamulah Sabhrina itu.”
“Dewan Keamanan? Dewan Keamanan apa? PBB? Oh astaga, aku yakin sekarang aku
sedang bermimpi.” Dengan konyol Sabh memejamkan matanya. “dan aku tinggal
memejamkan mataku sehingga aku bisa bangun dan menertawakan semua omong kosong
ini.”
Kerutan di kening Raekh semakin dalam. Apa gadis di depannya ini mengalami
gangguan?
Setelah beberapa detik, Sabh membuka matanya.
Tidak. Masih sama.
Ia pun memejamkan matanya lagi. Kemudian membukanya. Memejamkan lagi.
Membukanya lagi. Memejamkannya lagi dan lagi. Membukanya lagi dan lagi.
Melihat tingkah Sabh, Raekh tidak bisa untuk tidak tertawa. “Ini bukan
mimpi, Nona .”
Sabh mengepalkan tangan dan menyentuh keningnya. Ia menepukan kepalan
tangannya ke kening beberapa kali. Ia yakin ada yang salah dengan sistem kerja
otaknya.
“Baiklah, biar kujelaskan. Aku tahu kamu belum mengerti siapa aku dan untuk
apa aku datang ke sini,” Raekh berjalan mendekati Sabh. “tapi akan lebih baik
kalau kita duduk. Kakiku pegal menunggu kamu membukakan pintu untukku tadi.”
****
Sabh masih menatap pemuda yang mengenalkan diri dengan nama Raekh itu dengan
pandangan kalau-kau-berani-macam-macam-aku-akan-mengirimmu-ke-neraka. Kini ia
duduk berhadapan dengan Raekh. Kursi tempat mereka duduk terhalang sebuah meja
kecil berbentuk oval dengan taplak kemerahan.
“Jadi begini,” Raekh menghela napas dan menghembuskannya perlahan. Seolah
apa yang akan diucapkannya nanti tidak akan memberi dia izin untuk bernapas.
“aku Raekh. Aku datang dari tahun 2306 dan aku diberikan sebuah misi oleh Dewan
Keamanan—“
“Apa?!” Sabh tanpa sadar memotong penjelasan Raekh. “misi? Dewan Keamanan?
Apakah kamu gila?! Tidak, tidak. Tolong katakan sejujurnya padaku, Raekh. Sudah
berapa lama kamu mengalami gangguan kejiwaan? Di mana tempat rehabilitasmu?
Rumah Sakit Jiwa di jalan Exopink? Atau Panti Rehabilitas Jiwa di jalan Super
Generation? Biarkan aku mengantarmu pulang ke sana.” Sabh bersiap untuk
berdiri, namun tatapan super tajam Raekh membuatnya mengurungkan niat itu.
“Tolong dengarkan penjelasanku dulu, Sabh.” Raekh melipat tangannya. “Dan yang
perlu kamu ingat, aku tidak gila. Apa yang akan aku jelaskan atau yang sudah
aku katakan padamu, semuanya nyata.”
“Tapi bagaimana mungkin kamu—“
“Oh Demi Shakespeare yang sudah tenang di alam sana, kenapa Dewan Keamanan
harus mengirimkanku ke sini. Ke tempat dengan gadis yang keras kepala.” Raekh
memejamkan matanya dan desahan kesal meluncur dari mulutnya.
“Ba-baiklah. Aku mendengarkan.” Sabh membenarkan posisi duduk, dan meremas
kuat-kuat ujung piyama chicken little-nya.
“Aku bingung aku harus mulai dari mana. Aku rasa kapasitas otakmu tidak akan
bisa menampung penjelasan intiku.” Raekh terlihat berpikir keras. “Begini.
Dengarkan dan pahami baik-baik. Zaman sudah semakin menggila. Orang-orang di
masa depan—termasuk aku—semakin banyak yang tidak puas dengan apa yang mereka
miliki, dan kami berpikir kalau masa lalu—atau masa yang sudah
lewat—memengaruhi masa depan. Termasuk, apa yang orang-orang masa lalu lakukan
akan memengaruhi kehidupan kami di masa depan.” Raekh menelan ludah, dan
melanjutkan. “dan karena dasar pemikiran itu, akhirnya orang-orang masa depan
membentuk sebuah organisasi untuk mengurus hal-hal yang berhubungan dengan masa
lalu. Kami menyebutnya TOTP—To Overcome The Past. Aku adalah anggota
keamanan yang baru diangkat minggu lalu. Dan sialnya aku langsung mendapat misi
besar.”
Sabh menggigit bibir bawahnya. Jujur, ia tidak sepenuhnya paham apa yang Raekh
katakan. Anggota keamanan? Apa Raekh satpam? Sebegitu pentingnya kah masa lalu
di masa depan hingga dibentuk organisasi macam itu? Kenapa dia bisa datang ke
masa lalu—jika dia benar datang dari tahun2306—? Misi apa? Kenapa dia mendapat
misi? Siapa yang memberinya misi? Dan yang terpenting,
kenapa Raekh diharuskan tinggal di flat-ku?
****
(Akhir cerita satu)
Jumat, 22 Maret 2013
No worry, Chubby!
Chubby.
Uh. Pasti para pemilik pipi berisi ini minimal pernah lah ya marah-marah atau menggerutu gara-gara keadaan volume pipinya yang--sigh--di atas rata-rata.
Termasuk saya, sebenarnya.
Bahkan saat berat badan turun, ini pipi masih bergeming di ukurannya yang semula. Kalaupun berkurang, gak terlalu kelihatan, dan rasanya sia-sia ngurangin porsi makan atau tektek bengeknya--padahal itu sengaja dilakukan buat mengempiskan pipi.
Apalagi saya double-chinned.
Memang keturunan sih, sebenarnya. Tapi tetap aja rasanya risih dan kesel dan pengin meletusin pipi pakai jarum.
Di sini saya gak akan kasih saran 'Gimana Cara Mengempiskan Pipi' atau yang sejenisnya, tapi mari kita coba lihat dari sisi positifnya.
Chubby itu lucu, loh. Bikin gemes. Meskipun memang kalau berlebihan jatuhnya bisa bikin speechless, well, seenggaknya itu bisa jadi salah satu sisi menarik buat kita--ehm--dan bikin gampang diingat orang lain.
"Eh itu kan Si Anu yang chubby itu!'
"Itu Si Anu yang pipinya ngegemesin, kan."
Mungkin bisa seperti itu.
Dan ya, sekarang saya bisa lebih melihat sisi positif dari memiliki pipi chubby. Ditambah setelah melihat foto yang satu ini:
Kalau diperhatikan, istri Orlando Bloom ini punya pipi yang chubby. Tapi dia tetep percaya diri dan keliatan cantik cantik cantik sangat dengan pipinya.
Apalagi kalau ketawa.
Demi Alpacino. Kenapa dia tetep kelihatan cantik.
Jadi apa kalian masih kesel dengan pipi kalian yang 'tembem'?
Ya, asal jangan terlalu berlebihan sih bukan masalah kok.
Apa yang udah kita punya, harus dijaga. Jangan dihilangkan atau dilebihkan, yegak?
We are happy-chubbied girls
Uh. Pasti para pemilik pipi berisi ini minimal pernah lah ya marah-marah atau menggerutu gara-gara keadaan volume pipinya yang--sigh--di atas rata-rata.
Termasuk saya, sebenarnya.
Bahkan saat berat badan turun, ini pipi masih bergeming di ukurannya yang semula. Kalaupun berkurang, gak terlalu kelihatan, dan rasanya sia-sia ngurangin porsi makan atau tektek bengeknya--padahal itu sengaja dilakukan buat mengempiskan pipi.
Apalagi saya double-chinned.
Memang keturunan sih, sebenarnya. Tapi tetap aja rasanya risih dan kesel dan pengin meletusin pipi pakai jarum.
Di sini saya gak akan kasih saran 'Gimana Cara Mengempiskan Pipi' atau yang sejenisnya, tapi mari kita coba lihat dari sisi positifnya.
Chubby itu lucu, loh. Bikin gemes. Meskipun memang kalau berlebihan jatuhnya bisa bikin speechless, well, seenggaknya itu bisa jadi salah satu sisi menarik buat kita--ehm--dan bikin gampang diingat orang lain.
"Eh itu kan Si Anu yang chubby itu!'
"Itu Si Anu yang pipinya ngegemesin, kan."
Mungkin bisa seperti itu.
Dan ya, sekarang saya bisa lebih melihat sisi positif dari memiliki pipi chubby. Ditambah setelah melihat foto yang satu ini:
Yeap! Miranda Kerr!
Kalau diperhatikan, istri Orlando Bloom ini punya pipi yang chubby. Tapi dia tetep percaya diri dan keliatan cantik cantik cantik sangat dengan pipinya.
Apalagi kalau ketawa.
Demi Alpacino. Kenapa dia tetep kelihatan cantik.
Jadi apa kalian masih kesel dengan pipi kalian yang 'tembem'?
Ya, asal jangan terlalu berlebihan sih bukan masalah kok.
Apa yang udah kita punya, harus dijaga. Jangan dihilangkan atau dilebihkan, yegak?
We are happy-chubbied girls
![]() |
| Cameron Diaz |
![]() |
| Son Naeun |
![]() |
| Park Cho Rong Miranda Kerr |
![]() |
| Miranda Kerr |
![]() |
| Moon Geun Young |
Langganan:
Postingan (Atom)














